GERD : Penyakit Refluks Asam Lambung yang Perlu Diwaspadai

GERD : Penyakit Refluks Asam Lambung yang Perlu Diwaspadai

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan gangguan kronis pada saluran pencernaan yang ditandai oleh refluks atau backflow isi lambung, termasuk asam dan enzim pencernaan yang kembali ke esofagus (kerongkongan). Kejadian refluks yang berulang ini mengakibatkan gejala yang mengganggu serta potensi kerusakan mukosa esofagus apabila tidak ditangani secara tepat.


Secara fisiologis, GERD terjadi ketika Lower Esophageal Sphincter (LES) atau cincin otot yang berfungsi sebagai katup di antara esofagus dan lambung tidak bekerja secara efektif (Maret-Ouda et al., 2020). LES normalnya membuka saat menelan dan menutup rapat setelahnya untuk mencegah refluks. Pada GERD, LES melemah atau relaksasi terjadi secara tidak tepat sehingga asam lambung dan isi lambung lainnya kembali naik ke esofagus. 

Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, tidak hanya produksi asam lambung yang berlebih, tetapi juga adanya tekanan intra-abdominal tinggi, hierna hiatus, dan gangguan motilitas esofagus.


Epidemiologi dan Dampak Kesehatan

GERD menjadi salah satu gangguan gastroenterologi yang sangat umum. Apabila tidak ditangani, refluks yang terus-menerus dapat mengakibatkan komplikasi, seperti:

  1. Esofagitis kronis (peradangan esofagus)
  2. Striktur esofagus (penyempitan akibat jaringan parut)
  3. Barret’s esophagus (perubahan prekanker pada sel esofagus)
  4. Risiko adenokarsinoma esofagus meningkat pada kasus kronis tanpa pengobatan adekuat


Untuk gejala khas GERD nya meliputi:

  1. Heartburn, sensasi terbakar di dada, seringnya setelah makan atau saat berbaring
  2. Regurgitasi, naiknya isi lambung ke tenggorokan atau mulut
  3. Rasa pahit atau asam di mulut
  4. Disfagia, kesulitan menelan pada kasus yang lebih berat
  5. Batuk kronis atau suara serak akibat iritasi asam pada saluran napas atas


Upaya Preventif

Pencegahan GERD dapat dilakukan melalui penerapan gaya hidup sehat untuk mengurangi risiko refluks asam lambung. Upaya preventif tersebut meliputi menghindari berbaring setidaknya 2-3 jam setelah makan, mengonsumsi makanan dalam porsi kecil, dan membatasi makanan pemicu (makanan berlemak, pedas, dan asam). Menjaga berat badan, berhenti merokok, membatasi konsumsi alkohol, serta tidur dengan posisi kepala lebih tinggi juga dianjurkan guna mencegah terjadinya refluks asam lambung.

Kesimpulan

GERD sebagai gangguan refluks kronis yang membutuhkan pendekatan diagnosis dan manajemen yang tepat untuk menghindari terjadinya komplikasi jangka panjang. Selain terapi medis, modifikasi gaya hidup menjadi solusi kunci dalam mengontrol penyakit ini. Edukasi pasien mengenai gejala, faktor risiko, dan pilihan pengobatan menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas hidup penderita GERD.


Sumber Referensi:

Maret-Ouda J, Markar SR, Lagergren J. Gastroesophageal Reflux Disease: A Review. JAMA. 2020;324(24):2536–2547. doi:10.1001/jama.2020.21360