DBD Tak Pernah Pergi: Ancaman Lama yang Terus Berulang
Sebagai salah satu isu kesehatan yang masih dihadapi di Indonesia, Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi penyakit yang memerlukan perhatian yang serius. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini cenderung meningkat seiring dengan perubahan musim, khususnya saat curah hujan tinggi yang menciptakan banyak genangan air sebagai tempat berkembang biaknya nyamuk.
World Health Organization (WHO) memperkirakan sekitar 2,5 miliar jiwa atau hampir 40% populasi dunia berisiko terinfeksi dengue, terutama di wilayah tropis dan subtropis. Selain itu, diperkirakan terjadi sekitar 390 juta infeksi dengue setiap tahunnya di seluruh dunia.
Secara historis, Indonesia termasuk negara dengan beban kasus dengue yang tinggi di kawasan Asia Tenggara. Hal ini menunjukkan bahwa Demam Berdarah Dengue (DBD) bukan sekadar penyakit musiman, melainkan persoalan kesehatan yang berkelanjutan dan memerlukan perhatian serius.
Meningkatnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh beberapa faktor pemicu, salah satunya adalah kondisi lingkungan yang kurang terjaga. Selain itu, tingginya tingkat kepadatan penduduk turut mempercepat penyebaran penyakit ini. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan juga memperparah situasi. Hal tersebut menciptakan lingkungan yang ideal bagi perkembangan nyamuk Aedes aegypti. Akibatnya, risiko penularan DBD menjadi semakin tinggi di masyarakat.
Orang yang terjangkit DBD memiliki beberapa gejala, yaitu timbulnya ruam-ruam pada kulit, demam tinggi mendadak, nyeri kepala, nyeri otot hingga nyeri sendi. Penyakit ini berpotensi menimbulkan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan tepat, salah satunya adalah terjadinya penurunan jumlah trombosit yang dapat meningkatkan risiko perdarahan. Kondisi ini dapat ditandai dengan munculnya bintik merah pada kulit (petekie), mimisan, hingga pendarahan yang lebih serius pada saluran pencernaan.
Oleh karena itu, perlu adanya langkah-langkah untuk memberhentikan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, yaitu dengan menerapkan program 3M plus :
- Menguras dan menggosok tempat penampungan air, dengan frekuensi waktu minimal 1 kali seminggu dan untuk idealnya 2 kali seminggu di waktu hujan.
- Menutup rapat wadah air wajib setiap hari setelah menggunakan nya.
- Mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk yang bisa dilakukan 1 kali dalam seminggu (pembersihan ringan) dan 2 - 4 kali seminggu (pembersihan besar/gotong royong)
DBD bukan sekadar ancaman, tetapi tanggung jawab bersama. Dari langkah kecil seperti 3M Plus, kita bisa menciptakan perubahan besar. Mari bergerak bersama, jaga lingkungan, dan lindungi masa depan dari DBD.
